Pristiadi Utomo

Istriku Menulis di Masa lalu (III)

In film, Media Ajar, Motivasi, Pendidikan, Sastra Siswa on 27 June 2010 at 1:35 pm

Minggu, 6 Maret 2005

Pk. 11.41

Malam pertama di klinik Bhakti Ibu sesudah melahirkan aku tidak bisa tidur …

Kamarku yang kebetulan berada tepat di sebelah kamar bayi membuatku selalu terbangun tiap kali ada suara tangis bayi dari kamar itu …

Setiap jam selalu ada bayi menangis dan setiap jam itu juga aku selalu terbangun … bertanya-tanya apakah yang menangis itu bayiku …?

Setiap pagi datang aku selalu tidak sabar menunggu perawat membawa masuk bayiku ke kamarku …

Hal yang paling menyenangkan bila bayiku berada di kamarku … dan aku ditemani suamiku …

Dan bila malam tiba aku selalu sedih karena itu berarti waktu untuk berpisah dengan bayiku karena dia harus kembali ke kamar bayi lagi … untuk tidur di dalam box-nya …

Akhirnya waktu yang kunanti-nantikan datang juga …

Aku bisa pulang ke rumah bersama bayiku …

Aku benar-benar menikmati malam pertamaku dengan bayiku …

Berada di rumahku sendiri … di kamarku …

Dengan suamiku bisa sepuas hati memandang bayi mungil kami …

Di hari-hari pertamanya …

Mas Hafidz, bayiku … lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur …

Sehingga belum ada rasa lelah yang terasa olehku …

Memasuki minggu ke-2 … dia mulai banyak bangun dan meminta perhatianku …

Mengganti popok …

Memberinya ASI …

Membuatkannya susu botol …

Mulai dari minggu ke-3 …

Aku mulai kewalahan karena dia ternyata lebih banyak bangun di malam hari …

Dan yang melelahkan … karena dia minta digendong dan harus keluar kamar …

Lebih dari itu … aku harus mengajaknya berjalan-jalan dari satu ruangan ke ruangan lain … karena kalau tidak dia akan menangis …

Setiap tengah malam dia selalu memaksaku untuk melawan rasa kantuk untuk melakukan rutinitas itu …

Rasa kantuk yang amat sangat membuatku menjadi sering tidak sabar menghadapi tangis bayiku …

Dan bisa dipastikan pagi harinya … di saat rasa kantukku hilang aku selalu merasa menyesal dan kasihan pada bayiku, karena telah memarahi bayi mungilku akibat ketidaksabaranku itu …

Tapi bila aku tidak merasa ngantuk … aku bisa lebih bersabar mengurusi bayiku di malam hari …

Semoga saja seiring berjalannya waktu … semakin membuatku lebih dewasa dalam mengurusi bayi mungilku …

Membuatku lebih bersabar menghadapi tangis bayiku …

Karena memang cuma itu cara dia berkomunikasi denganku …

Tapi yang pasti … walaupun kadang-kadang aku memarahi bayi mungilku kalau aku sedang tidak bisa bersabar …

Rasa sayangku … dan rasa kasihku padanya melebihi apa pun yang ada di dunia ini …

Tiap kali memandang wajah sedihnya membuat rasa sakit di hati ini … dan membuatku menangis …

Dan aku selalu ingin menebus rasa bersalahku tiap kali aku telah memarahinya …

Ya Allah … semoga Kau berikan kesenangan di dunia dan di akhirat untuk mas Hafidz-ku … Amin …

Minggu, 6 Maret 2005

Pk.14.04

Sejak awal pernikahan, kondisi mengharuskan kami, saya dan mas Tomy, untuk mandiri dalam segala hal …

Sehingga dalam menjalani kehidupan rumah tangga … secara finansial kami harus memulai bukan sekedar dani nol melainkan dari minus …

Alhamdulillah … mas Tomy sudah memiliki rumah untuk kami tempati … walaupun kondisinya masih banyak yang harus direnovasi …

Tapi setidaknya … hal terpenting yang dibutuhkan dalam berumah tangga sudah kami miliki …

Tanpa terasa … dua tahun sudah kami menikah …

Tepatnya …dua tahun lebih 25 hari …

Dan sudah ada seorang bayi mungil di tengah-tengah kami … yang baru berusia 38 hari …

Tapi sampai dengan saat ini kami masih belum memungkinkan untuk hidup berlebih-lebihan …

Bahkan untuk beberapa saat ke depan kami masih harus banyak menahan keinginan …

Seringkali semua terasa sangat berat untuk kami jalani …

Tapi Alhamdulillah … Allah senantiasa menolong kami … sehingga walau terasa berat tapi tetap dapat kami lalui …

Memang ada kalanya saya tidak bisa bersabar dan sulit menerima kenyataan mengenai kondisi keluarga kami …

Dan bila sudah begitu selalu mas Tomy yang menjadi sasaran kekesalan saya … dan saya menyakiti hatinya …

Sering saya merasa tidak bisa berpikir jernih … dan itu membuat saya jadi mudah tersinggung dan tidak bisa mengendalikan sikap dan perkataan …

Selasa, 8 Maret 2005

Pk. 18.58

Sekali lagi beban berat terasa menghimpit kami …

Masih seperti yang sudah-sudah … masalah finansial …

Saat ini … kami harus memikirkan SPP  mas Tomy …

Sementara kewajiban bulanan kami untuk bulan ini masih banyak yang belum terpenuhi …

Senin, 14 Maret 2005

Pk. 11.52

Alhamdulillah … di tengah-tengah beban yang sedang kami hadapi … ada pertolongan dari Allah …

Sepagian tadi saya bingung memikirkan ABN yang jatuh tempo hari ini … sementara uang les baru akan masuk sore nanti, dan itu pun tidak mencukupi untuk angsuran ABN …

Tapi Allah tidak meninggalkan kami … karena gaji dari PIB cair hari ini walaupun hanya setengahnya …

Satu beban terlewati … dan masih banyak lagi yang masih harus kami jalani … semoga Allah memberikan jalan bagi kami untuk melaluinya … Amin …

Senin, 21 Maret 2005

Pk. 17.43

Satu hal yang paling tidak ingin kulakukan adalah …

Berpisah dengan bocah kecilku …

Baru membayangkannya saja … hatiku rasanya sudah sangat sakit …

Rasanya tidak rela melewatkan hari tanpa melihat wajah mungilnya …

Rasanya tidak rela melewatkan hari tanpa mendengar celotehnya …

Rasanya tidak rela tidak melihat mata mungilnya menatap wajahku …

Rasanya tidak rela membayangkan bila dia jadi lebih dekat dengan orang lain … dan bukan dengan aku ibunya …

Tapi entah harus bagaimana …

Kondisi masih mengharuskan aku untuk bekerja …

Kondisi belum memungkinkan aku untuk selalu berada di rumah tanpa melakukan sesuatu yang menghasilkan …

Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi …

Termasuk kebutuhan bocah kecilku …

Sementara masih banyak juga kewajiban-kewajiban yang harus diselesaikan …

Dan itu berarti … aku harus meninggalkan bocah kecilku untuk bekerja di luar rumah …

Sebenarnya …

Aku sangat tidak ingin melewatkan setiap detik untuk mengikuti perkembangan buah hatiku …

Walaupun aku hanya berpisah di siang hari … dan malamnya kami bisa terus bersama …

Tapi rasanya sangat berat …

Tapi sepertinya belum ada jalan lain untuk menghindari hal itu …

Karena kalau aku berhenti bekerja sekarang …

Kehidupan kami justru akan semakin sulit …

Dan akan berat juga untuk bisa memenuhi kebutuhan bocah kecilku …

Memang masih ada waktu sampai dengan masa cutiku habis …

Tapi sampai dengan saat ini kami masih belum tahu jalan keluar untuk masalah ini …

Apakah bayiku akan dirawat oleh orang lain … atau oleh eyangnya yang di Rembang …

Dan juga masih belum tahu … apakah eyangnya yang ke Semarang … atau bayiku yang harus ke rumah eyangnya di Rembang …

Sedih rasanya memikirkan hal ini …

Kalau memungkinkan …

Sebenarnya aku sangat berharap eyangnya yang datang ke Semarang …

Tapi entahlah … apa mungkin eyangnya bersedia meninggalkan rumahnya …

Ah …

Memikirkan hal ini membuatku merasa pusing … dan sakit hati …

Karena aku sangat mengharapkan kenyataan yang lain ..

Semoga Allah memberi jalan keluar bagi kami …

Amin …

Senin, 21 Maret 2005

Pk. 18.08

Banyak dan berat sekali beban yang harus kami penuhi untuk bulan ini …

Rekening telepon, Finansia, Citibank, Permata …

Semua harus dipenuhi …

Sementara SPP mas Tomy, uang buku, dan kebutuhan bulanan lainnya tetap juga tidak bisa diabaikan …

Ya Allah …

Kumohon pertolongan-Mu … Amin …

Senin, 28 Maret 2005

Pk. 18.36

Sekarang tanggal 28 Maret … itu berarti waktuku untuk bersama si kecilku tinggal 8 hari …

Setelah itu … dia akan tinggal bersama eyangnya di Rembang …

Ya Allah … entah bagaimana aku akan menjalani hari-hariku …

Tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menerima ini sebagai kenyataan …

Semoga Engkau selalu menolongku ya Allah … Amin …

Surat Untuk Anakku (1)…

Selasa, 29 Maret 2005

Pk. 07.26

Anakku sayang …

Maafkan ibu … karena kamu lahir di saat kondisi ibu dan papa masih prihatin …

Mungkin ibu dan papa punya kasih sayang yang melimpah untuk kamu …

Tapi ibu dan papa belum punya materi yang berlebih untuk kamu saat ini …

Tapi biarpun begitu … ibu tidak menganggap kamu lahir di saat yang tidak tepat …

Justru kehadiran kamu menjadi penghibur hati di saat ibu merasa sedih …

Tapi sekaligus menimbulkan rasa bersalah karena sebenarnya ibu sangat berharap bisa memberikan segalanya untuk kamu …

Dan yang paling menyakitkan untuk ibu …

Karena ibu dengan sangat terpaksa harus menitipkan kamu … buah hati ibu … yang ibu tunggu-tunggu kehadirannya sejak awal pernikahan ibu … ke rumah Eyang di Rembang …

Sedih rasanya membayangkan kamu di sana tidak bersama ibu …

Ibu yang sudah terbiasa melihat senyum kamu …

Ibu yang sudah terbiasa ngobrol dengan kamu …

Ibu yang sudah terbiasa mendengar tangisanmu …

Ibu yang sudah terbiasa memeluk kamu dalam gendongan ibu …

Tapi untuk saat ini belum ada jalan lain …

Karena ibu masih harus bekerja … membantu papa berusaha untuk menormalkan kondisi keluarga kita …

Kalau ibu bisa memilih …

Ibu pasti memilih tidak akan pernah meninggalkan kamu anakku …

Tapi kelihatannya belum ada pilihan itu untuk ibu … karena yang ada … ibu dihadapkan pada kondisi … yang untuk sementara harus jauh dulu dari buah hati ibu …

Mudah-mudahan buah hati ibu bisa mengerti …

Mudah-mudahan buah hati ibu tidak marah dan menyalahkan ibu atas keadaan ini …

Saat ini … ibu hanya bisa berharap semoga Allah segera menolong ibu … mendekatkan kembali ibu dengan buah hati ibu dalam kondisi yang jauh lebih baik … Amin …

Kamis, 31 Maret 2005

Pk. 15.14

Ada rasa berdosa yang amat sangat yang kurasakan hari ini untuk bayi kecilku …

Siang tadi … terpaksa aku mengajaknya pergi ke ATM karena hari ini harus membayar finansia …

Dalam kondisinya yang sedang flu dan dengan  suhu badan yang agak hangat … aku terpaksa mengajaknya naik motor …

Dan memang dia tidak seperti biasanya … karena tadi kelihatan dia merasa tidak nyaman berada dalam gendonganku … dan dia sempat menangis walau sangat sebentar …

Mendengar suara batuknya yang kecil membuatku menangis … terasa sangat berdosa karena telah membawanya dalam kehidupan yang masih sangat susah ini …

Terasa berdosa karena membiarkan bayi sekecil itu harus merasakan kehidupan yang keras …

Dia bayi kesayanganku … anak kesayanganku … kelihatannya dia akan jadi anak yang paling kusayangi karena aku telah berhutang padanya … berhutang kasih sayang … dan berhutang kesenangan … kenyamanan … dan kebahagiaan …

Dan ini berarti …

Aku harus benar-benar merelakannya untuk ikut dengan Eyangnya dulu  …

Supaya aku bisa menghabiskan seluruh waktuku untuk memperbaiki kondisi ekonomi kami saat ini …

Supaya secepatnya aku bisa menjemputnya kembali ke rumah ini …

Rumah tempat ibu dan papanya menunggu dan mengupayakan keadaan yang jauh lebih baik …

Untuk bisa membahagiakan dan mencukupi kebutuhan anak-anak kami kelak …

Kumohon pertolongan-Mu ya Allah … Amin …

Minggu, 3 April 2005

Pk. 17.58

Ntah apa rencana Allah …

Yang jelas saat ini … ternyata kamu menolak untuk tinggal dengan mbah di Rembang …

Sesudah rencana itu … hari-hari menjelang keberangkatan ke Rembang … kamu malah mendadak sering rewel dan seperti kehilangan keceriaan …

Setiap kali diajak bicara tentang rencana ke Rembang … kamu malah memasang wajah sedih … atau marah …

Tapi biarpun begitu … rencana … dengan sangat terpaksa akan tetap dijalankan …

Sampai pada akhirnya … tepat malam terakhir  menjelang waktu berangkat …

Ibu dan papa dengan keyakinan yang amat sangat … memutuskan untuk membatalkan rencana itu …

Karena kamu … malah jatuh sakit …

Malam itu juga ibu segera memberi kabar tentang pembatalan itu …

Dan lucunya … malam itu kamu mulai banyak senyum dan mengoceh lagi … sepertinya kamu merasa lega dengan keputusan akhir itu … Alhamdulillahi rabbil alamiin …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: