Pristiadi Utomo

TENGGELAMNYA KEROKO PUKEN

In Art, film, Pendidikan, Sastra Siswa on 27 April 2010 at 6:09 pm

Suatu hari pada zaman dahulu berangkatlah seorang janda ke tegalannya. Di dekat tegalan ada kolam yang keramat nan angker. Tatkala matahari sangat panas, wanita itu beristirahat di pondok. Saat itu dari arah kolam terdengar suara tawa-canda gadis-gadis. Wanita itu mendekat ke kolam. Dari tempat ketinggian ia dapat mengintip tujuh gadis cantik yang sedang berenang bersuka ria di kolam. Setelah puas mandi, dalam sekejap mata ketujuh gadis itu berubah menjadi tujuh burung merpati yang terbang lalu menghilang di awan biru.

Hari berikutnya wanita yang sudah menjanda itu cepat-cepat pergi ke kolam. Ia bersembunyi di balik batu besar yang tertutup semak belukar. Tidak lama kemudian terbanglah ketujuh burung merpati. Sampai di kolam, ketujuh burung itu berubah menjadi tujuh gadis cantik yang asyik berenang di kolam. Wanita itu sangat terpikat pada gadis paling kecil. Kebetulan sekali pada hari berikutnya si gadis bungsu meletakkan pakaiannya di dekat persembunyian si janda. Tatkala ketujuh gadis itu asyik berendam di kolam, pakaian si bungsu diambilnya secara diam-diam. Gadis bungsu itu ke luar dari kolam lalu menuju ke tempat pakaiannya, namun pakaiannya tidak ditemukannya lagi. Dicarinya kian kemari, namun tak kunjung didapatinya. Iapun menangis. Seketika itu juga keluarlah wanita tua itu dari persembunyiannya. Dibujuknya si gadis bungsu. Ia menyodorkan selembar sarung yang telah disiapkannya. Keduanya duduk sambil berkisah tentang kehidupan masing-masing. Pada akhir kisah si gadis bungsu berpesan agar wanita tua itu merahasiakan namanya dan asal usul dirinya. Setelah bersepakat, keduanya menuju ke pondok di tegalan dan tidur di pondok. Sementara itu, Lagan Doni sangat gelisah karena sudah lima hari ibunya tidak pulang ke rumah. Keesokannya pergilah Lagan Doni ke pondok di tegalan untuk mencari ibunya, si gadis bungsu disuruh oleh ibu Lagan Doni untuk bersembunyi.

“Kenapa Ibu tidak pulang ke rumah selama ini?” Tanya Lagan Doni kepada Ibunya. “Di sini saya tinggal bersama dengan seorang gadis pilihanku,” jawab sang ibu. “Untuk apa Ibu tinggal dengan gadis itu?” “Untuk mencari jodohmu dan inilah pilihanku yang terakhir sebelum ibumu meninggal,” jawab sang ibu lagi. Ibunya memanggil si gadis bungsu untuk menemui Lagan Doni. Bagaikan dalam mimpi Lagan Doni memandang gadis cantik nan rajin. Akhirnya Lagan Doni yang tampan itu menerima pilihan ibunya. Ibunya gembira karena anak tunggalnya sudah mempunyai istri. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian istri Lagan Doni tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada saat itu timbullah niatnya untuk cari tahu tentang asal-usul istrinya.

Pada suatu hari Lagan Doni menyadap lontar. Ia terjatuh dari pohon lontar lalu pingsan. Harapan hidup baginya sangat tipis. Maka, sang ibu dan istrinya meratapinya. Dalam keadaan pingsan itu Lagan Doni sempat mendengar ratapan istrinya, “Wahai Lagan Doni raja dunia, jangan kau tinggalkan aku Nini Sari Kolong Merpati Kayangan!” Tidak lama kemudian Lagan Doni siuman kembali. Istri dan ibunya merawatnya hingga kesehatannya pulih kembali. Setelah siuman, Lagan Doni bergurau, “Saya sudah tahu asal-usulmu dan namamu Nini Sari.” Mendengar gurauan itu, wajah Nisi Sari merah padam dan benar-benar tersinggung. Ia pun segera membakar kotoran/sampah kemudian ia melompat ke dalam kepulan asap dan terbang ke angkasa. Lagan Doni menceritakan peristiwa itu kepada ibunya. Ibunya langsung jatuh sakit sampai meninggal dunia.

Setelah menguburkan jenazah ibunya, Lagan Doni bertapa agar memperoleh kesaktian guna mencari istrinya ke dunia kayangan. Ia bertapa di kuburan orang tuanya. Setelah genap masa bertapa, ia pergi ke puncak gunung tertinggi sesuai dengan petunjuk orang tuanya. Di sana Lagan Doni memanjat sebatang pohon yang sangat licin. Akhirnya laki-laki itu sampai di kayangan dan ia menunggu di mata air yang biasa dipakai oleh semua gadis kayangan untuk menimba air. Di dekat mata air terdapat sebatang pohon asam. Pohon itu dipanjatnya dan dari sanalah ia mengamati semua gadis yang datang menimba air. Di antara gadis-gadis itu ada istrinya, Nini Sari. Pada saat Nini menimba air, Lagan Doni menjatuhkan daun asam ke dalam tempayannya. Ia juga menjatuhkan cincin permata dan Nini mengambilnya. Lagan Doni turun, keduanya bertemu. Nini Sari tidak lagi merahasiakan asal-usulnya.

Sebelum membawa Lagan Doni ke rumah ayahnya, Nini berpesan agar Lagan Doni harus tabah  menghadapi ujian/hukuman yang diberikan ayahnya. Keduanya berjalan menuju rumah sang ayah. Begitu ayah Nini melihat Lagan Doni, kedua algojo diperintahkannya untuk menyeret Lagan Doni ke tahanan. Namun, Lagan Doni tabah menghadapi cobaan itu sesuai dengan pesan Nini. Keesokan harinya kedua algojo datang dan membawa Lagan Doni ke pantai yang berpasir putih. Di situ telah disiapkan tujuh bakul berisi jawawut yang bijinya sangat halus seperti butir pasir. Jawawut itu dituangkan ke pasir lalu Lagan Doni disuruh untuk mengisi kembali jawawut itu ke dalam bakul.

“Kalau kau tidak bisa mengisi kembali jawawut yang berserakan ini ke dalam bakul, kau akan dibunuh di pantai ini,” demikian ancam kedua algojo. Lagan Doni sedih mengenang nasibnya. “Wahai anak manusia, kenapa kau sedih?” Tanya raja pipit. Lagan Doni menceritakan semuanya. Raja pipit pun memerintahkan kawanan pipit untuk mencotok biji jawawut yang berserakan dan memasukkannya ke dalam bakul. Sore harinya algojo datang dan melihat bakul-bakul telah terisi. Lagan Doni dikembalikan ke tahanan.

Keesokannya lagi Lagan Doni dibawa ke tengah laut. Di sana algojo menuangkan mute tana (sejenis bahan perhiasan untuk membuat kalung) dari dalam tujuh gumbang ke dalam lautan. Algojo kembali ke daratan. Pada saat Lagan Doni berada dalam kesulitan itu, datanglah kawanan bangau untuk membantunya. Sore harinya algojo datang dan melihat ketujuh gombang itu telah terisi dengan mute tana seperti semula. Ia kembali ke tahanan. Hari berikutnya Lagan Doni dibawa ke suatu areal untuk membangun rumah adat seperti di Keroko Puken. Dalam keadaan susah payah itu, datanglah raja landak dan kawanannya untuk memahat dan bergotong royong membangun rumah adat. Sore harinya algojo datang dan melihat sebuah rumah adat nan indah. Lagan Doni pun dikembalikan ke tahanan. Hari berikutnya lagi dibawa ke sebuah gedung yang gelap pekat. Di situ berkumpul pasangan suami istri dan Nini berada di antara pasangan itu. Lagan Doni disuruh menggandeng Nini dan jika ia menggandeng istri orang maka ia akan dibunuh. Dalam keadaan bingung itu Lagan Doni dibantu oleh kunang-kunang. Begitu lampu dinyalakan terlihat Lagan Doni menggandeng tangan Nini Sari.

Akhirnya laki-laki itu dapat menikah dengan Nini Sari. Setelah pesta pernikahan, pada hari ketujuh Nini dan suaminya diantar ke bumi di Keroko Puken. Di bumi Nini rajin bekerja kepandaiannya menenun tiada duanya. Pada suatu hari seekor ular naga kecil yang sangat elok warna kulitnya dilihat Nini. Ular itu dipungutnya dan dibawa ke rumahnya lalu diletakkan di hadapannya sambil meniru membuat motif tenunannya dari kulit ular itu. Kian hari ular itu membesar, mengganas, dan membunuh anak manusia. Nini yang kesohor itu diumpat dicaci maki oleh masyarakat Keroko Puken. Penduduk Keroko Puken mendatangkan dukun untuk membunuh ular yang semakin ganas itu. Mulut sang ular naga itu ditusuk dengan tombak berpijar. Sang ular pun mati dengan meneriakkan suara gemuruh menggelegar yang sangat menakutkan. Bersamaan dengan teriakan ular itu, hujan lebat pun turun, air mulai naik, dan gelombang yang ganas menghempas penduduk Keroko Puken. Tenggelamlah Keroko Puken dan penduduknya lari ke mana-mana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: