Pristiadi Utomo

Alternatif Reproduksi

In Media Ajar, Motivasi, Pendidikan on 23 March 2009 at 5:43 pm

3273490_f2662fcba4_mPENDAHULUAN

Masih mahalnya harga daging sapi maupun daging kambing untuk konsumsi masyarakat di Indonesia dikarenakan sebagian dari daging itu masih harus diimpor dari negara lain. Di lain pihak beberapa negara seperti Australia, Inggris, Selandia Baru, Amerika Serikat selalu surplus akan produksi daging binatang ternak. Ada hal pokok yang paling mendasar dalam pengembangan peternakan di negara-negara tersebut yang kurang diterapkan di Indonesia, yaitu penggunaan sains dan teknologi. Sedang di Indonesia peternakan masih banyak yang dikelola secara tradisionil.

Dalam makalah ini akan dipaparkan beberapa kajian sains dan teknologi yang dapat diterapkan di masyarakat untuk meningkatkan produksi peternakan terutama mamalia, melalui beberapa alternatif reproduksi. Alternatif reproduksi di sini sengaja tidak dibahas dalam peluang aplikasinya pada manusia, karena memang masih ada kendala-kendala etis dan moral serta masih adanya perdebatan pro dan kontra akan hal itu oleh masyarakat dunia.

Alternatif reproduksi yang akan diuraikan ada tiga macam, diantaranya pembuahan dalam tabung, embrio-embrio simpanan dan pemindahan, serta pembuatan klon.

ISI

1. Pembuahan dalam Tabung

Pertemuan dari sel sperma hewan jantan dan sel ovum hewan betina dilakukan dalam tabung di laboratorium.Jadi di sini fertilisasi telur terjadi di luar tubuh. Kemudian embrio-embrio yang sehat dan tidak terjadi kerusakan sel yang bisa menyebabkan terjadinya induksi mutasi, dipindahkan ke dalam rahim beberapa induk inang yang sudah ditentukan sehat. Bayi hewan tersebut misalnya sapi, akan berkembang alami dan mencapai batas usia kelahiran akan lahirlah secara bersamaan beberapa anak sapi yang mirip oleh beberapa induk inang yang berbeda-beda.

2. Embrio-embrio Simpanan dan Pemindahan

Teknik ini dengan mengadakan inseminasi buatan dengan bibit yang unggul pada induk yang unggul. Setelah jangka waktu tertentu embrio-embrio dalam rahim induk diambil keluar untuk disimpan dalam suhu yang dingin. Suatu saat embrio tersebut dapat dicangkokkan ke dalam rahim induk inang.Transfer embrio ini tahap zigote sampai dengan tahap morula.

Teknik ini melibatkan reproduksi pada mamalia dengan cara menyimpan embrio-embrio pada suhu yang sangat rendah (-196°C dalam nitrogen cair). Pencairan yang hati-hati dan pencangkokan kembali kepada induk inang dapat menghasilkan perkembangan dan kelahiran turunan yang normal. Pada tikus, 25% dari embrio-embrio yang diperlakukan demikian ternyata mampu berkembang normal sampai saatnya dilahirkan.

Gambar 1. Tikus-tikus yang ‘dibekukan—dicairkan’ dan induk inangnya yang albino yang melahirkan mereka.

Beberapa penerapan praktis telah dihasilkan dari pengembangan teknik pembekuan. Embrio-embrio sekarang dapat dibekukan dan dikirimkan dalam botol-botol kecil dengan menempuh jarak yang jauh sekali. Hewan ternak dengan cara ini dapat dipertukarkan antara peternak dari berbagai negara bagian dan berbagai negara dengan cepat dan ekonomis. Ada pula teknik yang sekarang ada yang melibatkan penyuntikan hormon-hormon untuk stimulasi ovulasi agar terdapat lebih banyak telur dibanding normalnya, yang disebut sebagai superovulasi. Dalam tahun 1979, terhadap seekor sapi Simmental pilihan dilakukan superovulasi, dikawinkan, dan embrio-embrionya dikeluarkan. Embrio-embrio yang kelihatan akan berkembang normal dicangkokkan ke dalam rahim induk inang. Satu sapi ini dengan cara demikian telah dapat memproduksi 89 anak-anak sapi pada tahun itu. Secara keseluruhan sebanyak 17.000 kebuntingan sapi telah diproduksi dengan cara ini pada tahun 1979 di Amerika Serikat.

Gambar 2. Ikhtisar teknik pemindahan embrio sapi.

Pemikiran yang serupa , namun tidak dibahas di sini bahwa sejak tahun 1980-an telah didirikan (oleh swasta) di California adanya ‘bank-bank sperma’, tempat penyimpanan sperma yang dibekukan.

3. Pembuatan Klon.

Pada tahun 1950-an dua ahli embriologi, R. Briggs dan T. King dari Inggris mengembangkan suatu teknik yang disebut transplantasi nuklear. Nukleus-nukleus dari sejumlah telur katak dikeluarkan dengan suatu pipet mikro dan digantikan dengan nukleus-nukleus yang diambil dari sel-sel sebuah embrio (gambar 3). Biarpun sel-sel embrio itu (pada titik pengembangan waktu nukleusnya dikeluarkan) sudah ditentukan menjadi tipe sel tertentu, namun Briggs dan King melihat bahwa gen-gen dalam nukleus pada banyak sel masih mempunyai kemampuan aktivitas genetis total. Ini dicerminkan oleh fakta bahwa sel-sel telur penerima mampu berkembang menjadi berudu dan katak-katak normal, lengkap dengan semua tipe sel yang secara normal ditemukan pada katak.

Gambar 3. Eksperimen transplantasi nuklear dengan telur-telur amphibi, menghasilkan generasi-generasi klon (individual-individual yang genetis identik, karena semua nuklei yang ditransplantasi berasal dari embrio yang sama dan sebab itu genetis adalah sama)

Apa yang menyebabkan teknik transplantasi nuklear itu mendapat perhatian khusus, adalah bahwa hal ini memungkinkan peneliti untuk memproduksi sejumlah organisme yang genetis identik, karena nukleusnya diambil dari sel-sel hewan yang sama. Sekelompok organisma yang genetis identik disebut suatu klon, dan istilah ‘cloning’ berarti proses produksi suatu klon.

Pada tahun 1987 di Inggris sudah berhasil mengklon individu baru dengan lahirnya Dolly, seekor bayi domba. Sejak itu telah banyak dilakukan pengklonan hewan, seperti sapi di Amerika Serikat dan tikus di Jepang

Prinsip mengklon domba di Inggris itu adalah sebagai berikut. Telur induk diambil dari indungnya. Inti sel yang dicangkokkan untuk mengganti inti telur diambil dari hasil kultur sel kelenjar susu domba. Setelah dicangkokiinti sel, kelenjar susu telur tumbuh sampai tingkat morula, lalu ditanamkan ke dalam rahim induk sampai lahir.

Pembuatan klon pada ternak juga bertujuan meningkatkan mutu berbagai sifat keturunan. Misalnya menciptakan generasi yang menghasilkan susu atau daging yang banyak Dengan memadukan teknik rekombinan gen yang membuat ternak itu menghasilkan banyak susu atau daging diisolasikan, lalu diangkokkan ke telur. Telur nanti tumbuh menjadi individu baru yang menghasilkan banyak susu dan daging yang dimaksud.

Akhirnya dalam perkembangannya cloning menjadi dua macam jenis cloning, yaitu reproductive cloning dan therapeutic cloning. Reproductive cloning bertujuan menghasilkan kembaran (copy) dari suatu individu, sedangkan therapeutic cloning bertujuan menciptakan embrio untuk menghasilkan embryonal stem cell (embrio sel induk) yang dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis sel dan kemudian dapat digunakan untuk mengganti sel-sel yang rusak seperti sel-sel otak,atau sel-sel jantung.

KESIMPULAN

1. Alternatif reproduksi digunakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan tengan menggunakan teknologi yang sudah berkembang misalnya, inseminasi buatan, pembuahan dalam tabung, cloning dan lain-lain.

2. Aplikasi alternatif reproduksi mempunyai masa depan cerah mengingat akan banyak negara yang merasakan manfaatnya karena teknik tekniknya awalnya mampu mengatasi keterbatasan jarak dan tempat dan bersifat lintas benua.

3. Teknologi yang digunakan ternyata masih tetap membutuhkan induk inang/semang.

4. Jika bayi sapi besar sedangkan induk semang berupa induk lokal yang kecil apakah memerlukan operasi caesar untuk kelahirannya. Bila sangat perlu bisa dilakukan operasi untuk menolong kelahiran anak sapi itu. Kelak kalau anak sapi itu dewasa dan betina bisa dijadikan induk semang dan selalu melahirkan tanpa operasi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: