Pristiadi Utomo

Istriku Menulis di Masa lalu (II)

In film, Guru, Materi Fisika, Media Ajar, Motivasi, Pendidikan, Sastra Siswa, Soal, T I K on 27 February 2009 at 3:00 am

aku-dipangku-ibu-di-rembang-umurku-5-bln-1-minggu

Bayi Kecilku

Alhamdulillah …

Akhirnya bayi kecilku lahir juga …

Rabu malam, tanggal 26 Januari 2005, pukul 19.40

Rasa sakit yang luar biasa waktu melahirkannya …

Menjadi terasa tiada berarti setiap kali menatap wajah mungilnya …

Bayiku lucu sekali … imut sekali … manis sekali …

Dia segalanya bagiku …

Dia dan suamiku …

Dua orang yang paling berarti dalam hidupku …

Mereka orang-orang yang paling kukasihi …

Muhammad Hafidz Pristiatama Nugraha

Itu nama bayi kecilku …

Harapan untuknya agar menjadi orang yang dapat dipercaya …

Menjadi orang yang memahami dan mengamalkan ayat-ayat

Allah …

Pristiatama Nugraha artinya anugerah yang diberikan kepada

Pristiadi Utomo, papanya …

Selasa, 1 Februari 2005

Pk. 15.23

Di tengah kebahagiaan yang sedang kurasakan …

Allah memberiku cobaan yang rasanya sangat berat .

Siang tadi, ada SMS dari Pak Dwi Sumarno,

teman guru suamiku …

Katanya, semester ini Mas Tommy tidak diberi jam mengajar …

Dan berkas mutasinya dikembalikan oleh Dinas Pendidikan Kab. Purbalingga …

Saya belum tau apa artinya semua itu …

Sakit rasanya membayangkan bahwa itu berarti sesuatu yang buruk …

Dan lebih sakit rasanya waktu kulihat

wajah mungil bayi kecilku …

Dan lebih sakit rasanya tiap kali terbayang wajah penuh beban suamiku ketika ia sedang tidur lelap …

Di saat sedang tidurpun terlihat jelas garis-garis wajahnya yang terasa menanggung beban yang sangat berat …

Dia orang tersabar yang pernah kukenal …

Dia orang terbaik yang pernah kukenal …

Dia orang terkokoh yang pernah kukenal …

Dia segalanya bagiku …

Dia yang menjadi kekuatan bagiku …

Entah apa jadinya kalau terjadi sesuatu padanya …

Kalau dia tidak dapat lagi menahan beban yang harus ditanggungnya …

Ya Allah …

Semoga ini bukan sesuatu yang buruk untuk kami …

Semoga Engkau memolong kami …

Semoga Engkau segera mengangkat beban berat dari pundak kami …

Amin ya Rabbal Alamin …

Tak ada kata yang tepat, yang dapat menjelaskan bagaimana suamiku …

Rasanya sebaik-baik sifat seseorang … semua ada padanya …

Aku mencintainya …

Aku menyayanginya…

Aku mengasihinya …

Rasanya Allah benar-benar menyayangiku karena telah menganugerahi suami sebaik dia …

Dan rasanya Allah benar-benar menyayangi kami karena sekarang di tengah-tengah kami telah hadir seorang bayi mungil …

Yang menjadi pelipur lara bagi kami …

Yang menjadi semangat bagi kami untuk terus berusaha membahagiakannya dan mencukupi segala kebutuhannya …

Selasa, 1 Februari 2005

Pk. 20.26

Aku memohon pada Allah agar segera mendatangkan jodoh bagiku …

Di saat yang tidak disangka-sangka … Allah mempertemukan aku dengan Pristiadi Utomo, orang yang sekarang menjadi suamiku …

Aku memohon pada Allah agar diberi suami yang baik dan bertanggung jawab …

Ternyata Allah memberiku seorang suami … orang terbaik yang pernah kukenal selama hidupku …

Aku pernah berdoa agar suatu saat memiliki rumah kecil tempatku berteduh …

Dan saat ini aku berada di dalam rumah mungil dan teduh hasil keringat suamiku …

Kami terus memohon agar dikaruniai keturunan …

Tepat pada waktunya … aku positif hamil …

Rasanya tidak sabar menunggu kelahiran bayi kami …

Ternyata tanpa terasa saat ini sudah ada bayi mungil

ditengah-tengah kami …

Kami sangat mengharapkan bayi pertama kami seorang bayi

laki-laki …

Allah kabulkan permohonan kami …

Kesulitan demi kesulitan yang sering kami hadapi …

Tapi sampai sejauh ini kami masil selalu mendapatkan pertolongan dari-Nya …

Dan sekarang …

Masalah mutasi Mas Tommy …

Benar-benar menjadi beban terberat kami saat ini …

Di saat aku merasa sudah berada di ambang rasa putus asa …

Akankah Allah segera menolong kami …

Memberi kebahagiaan terbesar bagi kami …

Mempersatukan kami sebagai satu keluarga yang utuh …

Satu keluarga yang lengkap …

Setelah kelahiran bayi kami …

Tidak tega rasanya melihat bayi mungil itu ditinggal oleh papanya untuk mencari nafkah di kota lain yang sangat jauh …

Tidak tega rasanya melepas suami untuk bekerja keras, membanting tulang, memeras keringat di tempat yang sangat jauh … dan jauh dari keluarga … dari bayi kecilnya …

Tidak kuat rasanya berada di dalam rumah dimana tidak ada kehadiran orang yang menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi hidupnya …

Ya Allah … tolonglah kami … seperti Engkau selama ini telah menolong dan mengabulkan doa-doa kami …

Selama ini kami terus berharap Kau persatukan keluarga kami …

Terutama setelah kehadiran bayi kami …

Kumohon … kabulkanlah doa kami ini …

Semoga berita dari Pak Dwi Sumarno itu bukan sesuatu yang buruk bagi keluarga kami …

Kabulkan doa kami, ya Allah …

Amin ya Rabbal Alamin .

Rabu, 2 Februari 2005

Pk. 16.45

Suamiku …

Proses kelahiran bayi imutku …semakin memperdalam rasa sayangku pada sosok suamiku …

Kesabarannya … perhatiannya … dan tanggung jawabnya selama proses kelahiran itu telah menguras banyak air mataku sampai dengan saat aku menulis ini …

Kalau saja aku mampu … ingin rasanya mengurangi berat beban yang ditanggungnya …

Melihatnya tidur … melihatnya berangkat ngelesi … membayangkannya harus berangkat ke Purbalingga tanpa bisa mengantarnya lagi … membuat dada ini terasa sesak dan tak bisa menahan air mata yang langsung keluar dari mataku …

Tiap kali bayi kecilku menangis di saat papanya sedang berangkat bekerja … membuat hatiku cemas dan khawatir terjadi sesuatu pada suamiku …

Rasanya tersiksa sekali …

Tapi begitu suara motor suamiku terdengar memasuki rumah … perasaan lega langsung terasa .

Begitu melihat wajah suamiku ketika kubuka pintu … menimbulkan rasa bahagia di hati ini …

Melihatnya menyapa bayinya … mengajak berbicara bayinya …

Melihatnya bahagia … membuatku merasa sangat bahagia karena telah melahirkan bayi mungilnya …

Aku terus memohon pada Allah agar segera mempersatukan kami di rumah ini …

Berharap dia segera pindah dari Purbalingga sehingga dia tidak perlu lagi menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya di perjalanan Pbg – Smg …

Dengan begitu damai rasanya hati ini …

Ya Allah bantu aku untuk terus menyayangi suamiku …

Bantu aku untuk terus mengasihi suamiku …

Apa pun akan kulakukan asalkan kami bisa segera bersatu di rumah ini …

Tolonglah kami ya Allah …

Jumat, 4 Februari 2005

Pk. 17.21

Entah kenapa rasa sakit itu terasa semakin dalam dan dalam …

Setiap kali suamiku harus pergi meninggalkan rumah, walau itu untuk bekerja …

Rasanya setiap detik yang kulalui sangat berharga untuk dilewatkan tanpa bisa melihat wajah teduh suamiku …

Kehadiran bayi kecilku … membuatku menjadi semakin cengeng dan tak bisa menerima kenyataan bahwa tak mungkin suamiku bisa selalu berada di sisiku setiap saat …

Itu sebabnya setiap kali melihat suamiku keluar meninggalkan rumah dadaku langsung terasa sesak dan tak bisa menahan tangisku …

Dan rasa lega selalu terasa tiap kali kudengar suara motor suamiku memasuki halaman rumahku …

Entahlah …

Mungkin karena setiap detik yang akan kulewati selalu ditakuti perasaan bahwa suamiku masih harus kembali ke Purbalingga meninggalkan aku dan bayi kecilku berdua di rumah …

Rasa sakit juga selalu terasa tiap kali mengingat bayiku harus ditinggalkan papanya itu …

Kehadiran bayi kecilku justru membuatku merasa kesepian di saat suamiku tidak di rumah …

Tapi sebaliknya … pada saat suamiku ada di rumah, hanya kebahagiaan dan kegembiaraan yang kurasakan …

Rasanya dunia hanya milik kami bertiga …

Rasanya keberadaan kami sudah lengkap dan tidak membutuhkan orang lain lagi …

Rasanya tak ingin ada orang lain yang mengusik kebahagiaan kami itu …

Ya Allah …

Satukan kami dalam sebuah keluarga …

Kumohon pada-Mu ya Allah …

Amin ya Rabbal Alamin …

Senin, 7 Februari 2005

Pk. 18.05

Rasa sakit itu kembali terasa … setelah beberapa hari ini aku merasakan kebahagiaan karena suamiku menemani aku dan bayi kecilku …

Nanti malam … suamiku harus ke Purbalingga …

Rasanya sakit … rasanya tak tega … harus melihatnya keluar meninggalkan pintu rumah di tengah malam … berjalan kaki menuju jalan raya … menunggu kendaraan yang akan membawanya sampai ke Milo … dan masih harus memulai perjalanan ke Purbalingga dengan bis malam …

Rasanya sedih karena tak bisa lagi mengantarnya sampai ke Milo, karena sekarang ada bayi kecilku yang tak bisa kutinggalkan walau sesaat …

Entah apa yang bisa menghibur kesedihan hatiku sekarang ini …

Melakukan banyak hal tetap akan mengingatkanku pada suamiku karena selama ini kami selalu melakukan banyak hal bersama-sama …

Menatap bayi mungilku malah akan menambah rasa sedihku karena kasihan melihat makhluk sekecil itu harus ditinggalkan oleh papanya …

Senin, 7 Februari 2005

Pk. 18.45

Di tengah kesedihanku ini … aku bersyukur karena hari ulang tahun pernikahan kami, tanggal 9 Februari, jatuh pada tanggal merah …

Itu artinya kami bisa memperingatinya bersama-sama, lengkap dengan buah hati kami …

Ya Allah, semoga Engkau benar-benar segera mempersatukan kami …

Kumohon pada-Mu ya Allah …

Kumohon kebahagiaan itu …

Amin ya Rabbal Alamin …

Minggu, 13 Februari 2005

Pk. 19.14

Tanpa terasa 17 hari sudah bayi kecilku mengisi hari-hariku …

Membuatku tak bosan-bosan menatapnya sepanjang siang saat dia terlelap tidur …

Menyibukkan malam-malamku dengan tangisannya …

Dengan pandangan mata mungilnya yang sering terjaga di malam hari …

Sangat melelahkan …

Tapi begitu melihat wajah mungilnya …

Begitu mendengar suara tangisnya …

Rasanya rela melakukan apa saja untuk bayi kecilku …

Ya Allah …

Alhamdulillah Engkau telah mengaruniai aku seorang bayi mungil yang cantik … yang menjadi pelipur lara bagiku … dan bagi suamiku …

Selasa, 15 Februari 2005

Pk. 09.12

Akhirnya mas Tomy benar-benar berangkat ke Purbalingga, setelah berkali-kali membatalkan keberangkatannya …

Rasanya sangat berat melihatnya berjalan kaki meninggalkan rumah di tengah malam … disaat orang-orang sedang terlelap tidur … meninggalkan istri dan bayi mungilnya …

Kuakui dan kukagumi ketegaran hati suamiku dalam menjalani ketentuan yang diberikan Allah padanya …

Semoga Allah selalu menyayanginya … menolongnya … memberinya kekuatan lahir dan batin dalam menjalani hidup ini … dan selalu memberi kemudahan dalam setiap kesulitan yang dihadapinya … Amin …

Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga kami segera dipersatukan …

Ya Allah … cobaan yang Kau berikan pada kami terasa sangat berat …

Kumohon kekuatan lahir, batin dan iman kami ya Allah …

Kumohon agar kebahagiaan itu segera datang …

Semoga keberangkatan suamiku ke Purbalingga kali ini membawa kebaikan bagi keluarga kami … Amin …

Selasa, 15 Februari 2005

Pk. 12.43

Seperti dugaanku …

Kepergian mas Tomy ke Purbalingga membuat rasa sepi di rumah ini …

Sekalipun waktu di Semarang mas Tomy lebih banyak berada di luar rumah untuk ngelesi … tapi ada rasa tenang karena nanti malam mas Tomy akan pulang ke rumah … dan kami akan berkumpul bersama lagi dengan bayi mungil kami …

Tapi sekarang … hari rasanya panjang sekali … dan waktu rasanya berjalan lambat sekali …

Ya Allah … tolonglah kami …

Entah apa yang sedang dikerjakan mas Tomy sekarang …

Mungkin saat ini dia sedang berada di sekolah …

Mengambil gaji …

Merevisi berkas mutasi …

Minta tanda tangan Pak Suhan …

Menyerahkan kembali berkas itu ke Diknas …

Mengatur segala sesuatu berkaitan dengan keberadaan dia di sekolah, karena dia sekarang sudah tidak mempunyai kewajiban mengajar …

Mungkin dia baru bisa ke Semarang lagi besok Rabu …

Tapi nggak apa …

Karena dia juga butuh istirahat …

Supaya dia tidak sakit karena kecapekan …

Sekarang tinggal saya yang harus menata hati …

Menguatkan hati …

Bersabar dengan kenyataan ini …

Menerima keadaan yang diberikan oleh Allah untuk saat ini …

Tapi pasti …

Akan tiba waktunya Allah mempersatukan kami kembali …

Di rumah ini …

Dan semoga saat itu segera datang …

Amin ya Rabbal Alamin …

Senin, 21 Februari 2005

Pk. 19.07

Akhirnya aku benar-benar merasakan menjadi seorang ibu …

Ketika ada wajah mungil yang setiap saat bisa kuciumi …

Ketika ada wajah mungil yang setiap saat bisa kupandangi …

Ketika ada suara tangisnya yang minta diganti popoknya karena pipis …

Ketika ada suara tangisnya saat dia merasa haus dan lapar …

Ketika ada suara tangisnya saat dia minta digendong dalam pelukanku …

Ketika ada suara tangisnya kalau terlalu lama kutinggalkan …

Dan aku benar-benar merasakan menjadi seorang ibu …

Ketika ada sepasang mata mungil yang terus menatapku saat dia berada dalam pelukanku …

Aku bersyukur dan terus bersyukur setiap kali menyadari bahwa aku telah dikaruniai seorang bayi mungil …

Yang telah lama kunantikan …

Sabtu, 5 Maret 2005

Pk. 15.34

Alhamdulillah …

Selapanan bayi mungilku sudah dapat dilaksanakan hari Kamis tanggal 3 Maret kemarin …

Walaupun sangat sederhana … dan tanpa ada acara pengajian ataupun tazmiyah… tapi niat utamanya Insya Allah sudah terlaksana …

Memang ada rasa kecewa karena tidak bisa memberikan yang lebih baik dan sempurna lagi untuk bayi kecilku itu …

Tapi itu sudah yang terbaik yang bisa kami berikan untuknya untuk saat ini …

Mudah-mudahan Mas Hafidz-ku bisa menerimanya dengan hati lapang …

Dan mudah-mudahan kami bisa secepatnya melaksanakan niat aqiqah untuk Mas Hafidz-ku …

Semoga Allah melimpahkan rizki yang halal dan thoyibah untuk kami melaksanakan hajat kami … Amin …

Bersambung. . . .

  1. […] Go here to read the rest:  Istriku Menulis di Masa lalu […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: