Pristiadi Utomo

1001 kekonyolan, petualangan, pengalaman, keajaiban, dan kemustahilan ku

In film, Guru, Media Ajar, Motivasi, Pendidikan, Sastra Siswa on 11 February 2009 at 10:32 am

Pengalaman ini kutulis dalam lawatanku ke berbagai penjuru dunia. Aku memang menyukai petualangan-petualangan yang mengasyikkan. Kejadian-kejadian perjalanan kucatat dalam buku harian, dengan harapan sekembalinya ke tanah air, bisa di publikasikan, agar bisa dipakai bekal hidup generasi muda.

Selama umurku yang dua puluh tahun ini, banyak kejadian yang ku alami. Setiap habis mengalami kejadian yang menarik, segera kutulis dalam buku harian. Sekonyong-konyong timbul keinginanku agar pengalamanku bisa di publikasikan

Hanya pesanku pada pembaca…lewatilah khusus rublik ini dan mulailah membaca dikala akan berangkat tidur………

Puncak Jayawijaya

Hari mulai gelap ketika aku sampai di tempat tertinggi dari kepulauan Indonesia. Sejauh pandang kulepaskan hanya ada hamparan salju dank kabut yang semakin menebal. Suhu udara terasa sangat dingin. Aku sangat kasihan kepada kuda ku, kuda yang kubeli tiga hari yang lalu dari penduduk desa.

Aku merasa bersyukur telah berhasil menempuh pendakian ini. Jauh sebelumnya telah mengira sulitnya medan. Beruntunglah aku tidak membawa banyak barang . Sayang aku lupa membawa barang yang terpenting : baju dingin.

Tubuhku menggigil kedinginan. Tiba-tibaaku terkejut dan jantung ku terasa berhenti berdenyut, sejenak kudengar langkah-langkah kaki orang. Kemudian kulihat seseorang tak jauh didepanku. Seorang penduduk asli dengan tombak terhunus dan bertelanjang dada, hanya memakai cawat dari kulit hewan. Dengan bahasa isyarat kupanggil dan kutanya mau kemana dia. Tanganya bergerak-bergerak menjawab dengan bahasa isyarat juga. Tombaknya tak mau lepas dari tangannya. Ternyata dia akan pulang ke desanya untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarganya.

Melihat keadaannya itu aku jadi kasihan, mantel satu-satunya yang kupakai menutupi bajuku, kulepas kuberikan padanya supaya dia tidak kedinginan. Sebagai rasa terimakasihnya aku diberi dua buah batu segitiga dari balik kotaknya. Dia bilang benda itu mata tombak, bisa untuk mengusir syetan.

Setelah mengucapkan terimakasih berkali-kali (tentunya dengan bahasa isyarat) orang itu meminta diri denagan tangan kanan kokoh memegang tombak, tangan kiri menjinjing mantel, dia dengan gagah berlari-lari kecil turun ke desanya.

Rasa kantuk menyerang, sesudah acara makan malam dengan kudaku selesai. “Aku harus segera beristirahat untuk kegiatan ku esok pagi,” pikirku.

Tak ada pohon satupun, terpaksa kutambatkan kuda ku pada sebuah batu. lancip yang mencuat. Tak ada batu lain dari salju. Hanya itu satu-satunya batu yang ada. Terpaksa lagi aku bebaring begitu saja diatas salju karena sangat lelah dan ngantuk, segera aku tidur pulas.

Tubuhku terasa panas. Ternyata matahari telah bersinar terang sewaktu aku membuka mata. Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Tadi malam aku tertidur di hamparan salju. Tapi, kini aku terbangun di puncak yang tandus. Hanya beberapa dan perdu yang tampak, lainnya hanya batu-batu menonjol dan tanah-tanah cokelat yang mongering. Tetapi, dimana kudaku?

Sekonyong-konyong kudengar ringkik kuda dari atas, Aneh, mataku kuedarkan, melihat-lihat ke atas. Tak ada! Kebelakang, oooiiih, itu dia! Terikat pada seonggok batu besar yang lancip pucuknya.

Segera aku memahami persoalan kemarin seluruh puncak ini tertutup salju kecuali batu lancip tempat aku menambatkan kuda. Sepanjang malam salju mencair, membawa aku mencapai tanah, beberapa meter dari kudaku tertambat.

Akalku mulai bekerja aku harus bisa menurunkan kudaku, tapi bagaimana? Senapan ku masih tergantung diatas, di pelana kuda. Aku ingat sekarang kurogoh sebuah batu segitiga atau entah mata tombak, dari saku baju kiri, dan kemudian kulemparkan ke atas. Tess…!, tepat mengenai tali pengikat kudaku. Binatang itu merosot sepanjang lereng batu, yang kebetulan miring ke tanah. Segera kuperiksa kudaku. Tak apa-apa, cuma kaget dan mungkin agak pegel-pegel.

Setelah makan roti sisa tadi malam, aku turun dari puncak, berkemas-kemas melanjutkan perjalanan, dan bergegas kudaku menuruni puncak jaya wijaya. Rupanya dia sependapat denganku. Takut salju. tiba-tiba datang mengubur segala yang ada. Aku tak tahu kejadian apa yang terjadi semalam. Hanya kudakulah satu-satunya makhluk yang melihatnya. Tetapi, dia menjadi sangat ketakutan. Aku kurang puas di buatnya. Biarlah…, setidaknya aku telah menyimpan sebuah mata tombak di saku bajuku.

BERSAMBUNG ………

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: