Pristiadi Utomo

MENANGKAP MAKNA PENDIDIKAN USAI UJIAN AKHIR

In film, Guru, Media Ajar, Motivasi, Pendidikan, Sastra Siswa on 9 February 2009 at 8:54 pm

Alkisah seorang saudagar yang sudah uzur, hendak membagi warisan kepada kedua anaknya. Sebelum mewariskan rumah-rumah, toko-toko serta harta benda lainnya, saudagar itu memberi petuah; ‘Anakku…,ingatlah perkataan Ayahmu ini. Selama kalian berangkat dan pulang bekerja, jangan terkena sinar matahari !’. Sang Kakak yang malas dan tidak bisa menangkap makna wasiat ayahnya, membangun ‘rumah jalan’ dari rumah ke tokonya. Berangkat siang hari maupun pulang kerja sore hari, melalui ‘rumah jalan’ itu, tidak terkena sorot sinar matahari, pikirnya.

Sang Adik menangkap wasiat ayahnya dengan mempraktekkan berangkat kerja ke tokonya sebelum matahari terbit, dan pulang sesudah matahari terbenam. Setelah sekian tahun, usaha sang Kakak mengalami kemunduran dan bangkrut, sedang usaha si Adik semakin mengalami kemajuan.

Ujian Akhir Nasional (UAN) telah berlalu, memberi dua konsekuensi pada setiap siswa, lulus atau tidak lulus sekolah. Bagi yang tidak lulus seyogyanya mengulang sampai berhasil. Sedangkan bagi yang lulus dapat meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi ataupun terjun langsung ke lapangan pekerjaan. Setelah tiga tahun atau lebih menempuh pendidikan formal di bangku sekolah, siswa SMA/MA, SMK maupun yang setingkat, perlu mengingat lagi makna pendidikan yang baru saja dilaluinya. Hari-hari yang dilalui selama itu, penuh dengan kegiatan akademis baik di lingkup intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Pergulatan dengan materi pelajaran yang harus dikuasai, menghabiskan energi dan waktu setiap harinya. Selain itu, penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan, sungguh memerlukan daya konsentrasi sendiri. Yang tak kalah penting, adalah proses adaptasi yang dijalani. Dengan berbagai tipe teman, guru-guru yang berkarakter berbeda-beda, mampu menggembleng pribadi secara mental dan jasmani.

Seperti amanah saudagar kepada anak-anaknya tersebut, proses pendidikan juga sarat dengan pesan-pesan kepada siswa-siswa. Bagi siswa yang mengabaikan pesan pendidikan, dan mengaburkan maknanya akan serba salah mengetrapkannya dalam kehidupannya. Akibatnya, hasil buruk dan minimum akan diperolehnya, seperti halnya terjadi pada sang Kakak dalam kisah tersebut. Sebaliknya, bagi siswa yang dapat menangkap pesan pendidikan dengan benar, dan mampu mengetrapkan dalam kehidupannya dengan baik, ditanggung pasti ia memperoleh kesuksesan dan kemajuan dalam hidupnya, layaknya yang terjadi pada si Adik.

Semua proses pendidikan dengan segala pernik-pernik di dalamnya, ditangkap di mata siswa menjadi dua kutub yang berlawanan, menyenangkan atau menyusahkan, memberatkan atau meringankan, berguna atau sia-sia dan sebagainya.

Institusi pendidikan sebagai kawah candradimuka tempat menggembleng para siswa penuh dengan aktivitas-aktivitas yang dirasa berat; berlatih, berpikir, berargumentasi, berorganisasi, mengasah kemampuan diri dan lain-lain; menjalankan fungsinya pada rel sebagaimana mestinya. Kemampuan setiap lulusan sekolah untuk menangkap makna pendidikan yang baru dilalui proses pendidikannya, tak boleh bias terlalu lebar. Tangkapan makna pendidikan yang keliru membawa implikasi buruk bagi lulusan di kehidupannya nanti. Bukan menjadi pemenang kehidupan melainkan menjadi pecundang.

Para pemenang menyikapi makna pendidikan secara positif, sedangkan para pecundang menyikapi makna pendidikan secara negatif. Dua hal yang menjadi dikotomi, dalam menangkap makna pendidikan adalah; Pertama, pendidikan membentuk pribadi yang lunak. Segala proses pendidikan dirasa sebagai beban. Hari-hari yang dilalui dipenuhi dengan rasa malas, sering menunda, pesimis, apatis maupun depresi. Seseorang yang menyikapi proses pendidikannya seperti itu, di hari kemudian akan menjumpai bahwa hidup terasa keras. Semua serba sulit, penuh kekurangan, kekalahan, kegagalan dan keterbatasan. Kedua, pendidikan membentuk pribadi yang kuat. Proses pendidikan yang ditempuh penuh dengan kerja keras, disiplin, tanggung jawab, percaya diri dan optimis. Kelak di kemudian hari, pribadi semacam itu akan menjumpai bahwa hidup terasa lunak. Hari-harinya penuh dengan kemajuan, keuntungan, kelebuhan, kesejahteraan, ketenaran dan sebagainya.

Oleh karena itu, para pendidik tidak pernah ragu-ragu berkata; ‘Anda dididik di sekolah ini, tidak dimaksudkan harus menjadi seorang fisikawan, ahli bahasa, matematikawan, antropolog, biolog, sosiolog, tukang las, atau lainnya; tetapi diharapkan dapat mencetak Anda menjadi seorang yang taqwa, mampu berpikir jernih dan bernalar tinggi serta menghargai tugas dan disiplin.

Ternyata hal itu cukup beralasan, sebab di negeri ini kurang tersedia tempat bagi kalangan ilmuwan dan profesional. Pilihan yang banyak tersedia mungkin hanyalah buruh, petani, nelayan, birokrat, politikus, atau pengangguran. Bagaimanapun juga, apapun makna pendidikan yang para lulusan tangkap, mereka tidak boleh meninggalkan tiga makna dasar dalam proses pendidikan; kebenaran, kejujuran, dan kerja keras. Itulah yang sering dilupakan selama ini.

Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: