Pristiadi Utomo

Ketika Hujan Benar-Benar Berhenti

In Pendidikan on 9 February 2009 at 7:42 pm

Pukul 08.30, jam Bahasa Inggris, kelas 3ipa1, SMAN 105 Semarang.
“OK students, please submit your assignment!” Bu Rena mulai mengkomando seisi kelas.
“Yah, males banget, Bahasa Inggris lagi.” keluh Leo. Sejurus kemudian, Leo bangkit dari tempat duduknya.
“Eh Leo, kamu mau kemana?” tanya Luthfi teman sebangkunya.
“Ke toilet, sebentar aja, cuci muka doang.” jawab Leo sambil berjalan menuju meja guru.
“Jangan cabut, inget udah kelas tiga!” Luthfi mewanti-wanti.
Leo hanya tersenyum. Dia keluar kelas setelah mendapat izin dari Bu Rena, guru Bahasa Inggrisnya. Leo memang benci banget sama pelajaran Bahasa Inggris. Menurutnya pelajaran Bahasa Inggris itu membosankan. Tapi bukan berarti Leo nggak bisa Bahasa Inggris. Dia malah jago banget berbicara Bahasa Inggris.
Leo berjalan santai sambil bersiul-siul kecil. Sesampainya di toilet, dia mulai menyalakan keran untuk mencuci muka dan membasahi rambutnya.
“Hhhh…” Leo menatap bayangannya di cermin.
Sesaat kemudian, Leo menyadari bahwa sepatunya basah. Ada air yang mengalir dari salah satu bilik toilet.
‘Pasti ada yang lupa matiin keran.’ Pikir Leo.
Leo berjingkat menuju bilik tersebut untuk mematikan keran. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari bahwa genangan air di bawahnya berubah merah.
“Ya ampuun… Aduh Tuhan, masa ada yang bunuh diri di sini sih? Ntar kalo dia jadi hantu toilet cowok kan aku jadi takut ke toilet.” Leo mengoceh sendiri.
Dia mendekati pintu dengan perasaan was-was. Takut, seolah-olah yang akan keluar dari dalam bilik adalah hantu tanpa kepala. Leo memberanikan diri untuk membuka pintu toilet.
“Halo?” sapa Leo ketika pintu berderit terbuka.
Seorang gadis, dengan kepala terkulai di dinding toilet. Sebelah tangannya memegang silet dan sebelah tangannya mengucurkan darah dari nadinya yang terpotong.
“Vicha?” bisik Leo lirih. Entah mengapa, tiba-tiba Leo teringat seseorang yang sangat dia sayangi, Vicha yang meninggal karena radang otak, dua tahun yang lalu.
‘Bukan, dia bukan Vicha.’ Pikir Leo kemudian.
“Eh, kamu mau bunuh diri ya?” tanya Leo polos kepada gadis itu.
‘Duh, bego banget sih! Ya iyalah dia mau bunuh diri! Masa cuma testing doang?’ pikir Leo saat si gadis tak menjawab.
Diluar dugaan ternyata gadis itu masih hidup. Dia bergerak, pelan sekali dan menjawab pertanyaan bodoh Leo.
“Iya…” jawab gadis itu lirih.
“Emang kamu udah bosan hidup ya? Segitu kompleksnya kah masalah kamu sampai kamu tega mengakhiri hidup kamu?” tanya Leo menginterogasi gadis itu. Interview sebelum meninggal.
“Itu bukan urusan kamu!” jawab gadis itu dengan nada menyentak.
“Sekarang mending kamu pegi sebelum aku meninggal.” lanjutnya dengan nafas tersengal.
“Gimana sih rasanya mau mati?” tanya Leo menatap lekat-lekat gadis itu. Dia belum beranjak sedikitpun dari tempatnya.
“Yang jelas, kematian membawa kedamaian untukku.” jawab gadis itu dengan sisa-sisa tenaganya. Mungkin nyawanya tinggal beberapa puluh detik lagi.
“Bukannya malah nambah masalah buat keluarga kamu?”
“Aku nggak peduli! Buruan pergi, sebelum aku meninggal.” si gadis menutup matanya.
“Oke, oke, aku akan pergi. Tapi sebelumnya, kamu mau aku selametin atau nggak?” tanya Leo polos.

♥♥♥

“Jadi kamu menemukan Vanni di toilet dengan urat nadi telah terpotong?” tanya Pak Herman, guru BK SMA Negeri 105 Semarang.
“Ooo… jadi namanya Vanni? Iya Pak, waktu saya ke toilet, tiba-tiba ada genangan darah di lantai. Waktu saya buka pintu bilik toilet, dia udah seperti itu Pak.” ujar Leo menjelaskan.
“Hmm… Untung kamu segera melaporkan ke BK.” Pak Herman memilin kumisnya menatap Leo.
“Lalu sekarang bagaimana keadaannya?”
“Dia sudah dibawa ke Rumah Sakit. Kamu tak perlu khawatir. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”
“Terima kasih, Pak. Selamat siang.” Leo beranjak dari tempat duduknya.
“Iya, selamat siang.”
Leo berjalan menuju kelasnya. Dan untuk kedua kalinya dia terkejut. Melihat Bu Rena menunggunya di depan pintu kelasnya. Beliau menatap Leo murka dengan muka sangat merah.
“Leo kemana saja kamu???!!!”

♥♥♥

Gadis itu mulai tersadar. Perlahan-lahan dia membuka matanya yang berat. Dia melihat bangunan serba putih di sekelilingnya.
‘Dimana nih?’ pikir Vanni heran.
Kemudian, pintu diketuk. Leo muncul dengan senyum di wajahnya.
“Udah sadar juga akhirnya?” Leo duduk di samping ranjang Vanni.
“Kenapa kamu nyelametin aku?” tanya Vanni ketus.
“Hahaha… Vanni, setiap kamar pasti ada pintunya. Masalah kamu juga pasti ada jalan keluarnya. Sekompleks apapun itu. Tinggal bagaimana cara kita menemukan pintu itu. Aku udah denger semua masalah keluarga kamu dari Pak Herman. Kamu nggak perlu khawatir biaya rumah sakit, aku yang akan nanggung.”
“Apa-apaain sih kamu ikut campur masalah aku? Mau aku mati atau nggak kan itu bukan urusan kamu. Kamu nggak tau apa-apa mengenai keluarga aku! Nggak usah sok baik deh!” semprot Vanni ketus.
“Kurang kenceng neng teriaknya! Iya juga ya? Aku juga heran kenapa aku nyelametin kamu. Padahal aku aja nggak kenal kamu. Tapi satu hal yang kamu salah. Aku nggak berpura-pura baik. Aku ikhlas mau nolongin kamu. Dulu aku juga punya keluarga yang hancur. Ayahku selingkuh dan ibuku simpenan orang. Aku sendiri juga nyaris bunuh diri waktu itu. Tapi berkat seseorang, aku sadar kalo itu bukan solusi yang tepat. Aku coba survive dengan kehidupan aku. Untungnya ayah ibuku sadar kalo mereka salah dan telah menelantarkan anak mereka sejak lama. Dan kita mulai kehidupan baru dari awal. Dari nol lagi.” Leo menjelaskan.
Perlahan air mata menetes di pipi pucat Vanni, “Aku nggak yakin keluarga aku bisa seperti itu.”
Leo tersenyum seperti biasa, “Percaya deh, kamu bakal tegar menghadapi ini semua! Kamu kan masih punya aku? Mulai sekarang kita berteman ya? Nama aku Leo.” Leo menunjukkan jari kelingkingnya mengajak Vanni untuk berjanji kelingking.
Vanni melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Leo, meskipun awalnya dia ragu-ragu. Setelah itu dia tersenyum.
Aneh, Vanni merasa nyaman dengan ucapan Leo. Walaupun mereka baru saja kenal (dengan cara paling aneh sedunia), tapi Vanni tau bahwa Leo bisa membantunya menghadapi masalahnya.

♥♥♥

“Jadi bener kamu yang nyelametin Vinna waktu dia mau bunuh diri di toilet cowok?” tanya Luthfi sesampainya Leo di bangkunya keesokan harinya.
“Dan seluas apa sih berita ini nyebar?” Leo balik bertanya.
“Kemarin ada yang liat guru-guru nyelametin Vinna, dan si saksi mata juga ngeliat kamu keluar dari toilet.”
“Kenapa sih tuh cewek sampe bunuh diri? Bosan hidup apa?” Luthfi lanjut bertanya.
“Masalah pribadi.” jawab Leo singkat.
“Dan anehnya, kenapa kamu sampe mau nyelametin dia? Kamu kan nggak kenal dia?”
Leo menghembuskan nafas, capek. Dia duduk tak tenang di kursinya.
“Aku ngerasa dia mirip Vicha. Aku kangen sosok Vicha. Dan setelah aku liat Vanni, aku ngerasa nggak mau kehilangan Vicha lagi, untuk kedua kali….”
“Jadi sampe sekarang kamu masih inget-inget Viha? Leo, sadar dong! Viha itu udah nggak ada, dia udah meninggal. Biarin dia tenang di sana!”
Leo diam termenung mendengar perkataan Luthfi, kawannya. Kenyataan bahwa Vicha telah pergi membuat dia bener-bener perih.

♥♥♥

Esoknya, Leo mengunjungi Vanni lagi di rumah sakit. Rencananya hari ini Vanni sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Kedatangan Leo juga sekaligus membereskan masalah administrasi rumah sakit.
Leo mengetuk kamar Vanni. Tak ada sahutan. Leo membuka pintu. Kamar Vanni kosong.
“Loh? Kok kosong?” Leo melangkahi ambang pintu, keheranan.
“Van? Van? Vanni? Kamu dimana?” Leo mencari Vanni mengelillingi kamar. Ketika dia tak menemukan Vanni dimana pun, dia melesat keluar kamar. Leo berlari keliling rumah sakit.
“Huaaa… Vanni ilang!!” Leo berteriak tanpa memperdulikan gertakan marah suster-suster.
Tak lama setelah Leo pergi dari kamar Vanni, pintu toilet kamar Vanni terbuka. Vanni muncul dari dalam toilet.
“Loh, tadi ada suara Leo deh kayaknya. Leo? Leo?” Vanni mencari Leo.
“Yah, Leo ilang!” ucap Vanni putus asa. Sesaat kemudian, pandangannya tertuju pada sesuatu di luar jendela. Di luar mendung, maka Vanni membuka jendela. Menikmati hembusan angin.
Lama Vanni berdiri di depan jendela, ketika sebuah suara memanggil namanya. Dia kenal suara itu. Itu suara Leo. Vanni berbalik dan kali ini dia benar-benar terkejut mendapati Leo basah kuyup bermandi keringat.
“Vanni, kamu ngapain di pinggir jendela? Mau bunuh diri lagi? Aduh, please deh Van, apa nasehatku kemaren kurang manjur?” Leo masuk menghampiri Vanni.
“Nah, kamu sendiri dari mana sampe ngos-ngosan gini? Abis marathon bang? Aku nggak mau bunuh diri lagi kok, Cuma mau liat pemandangan.”
“Tadi aku masuk kamar kamu, tapi kamar kamu kosong. Aku pikir kamu kabur lagi. Trus aku cari kamu keliling rumah sakit.”
“Hahahaha… pantes tadi aku denger suara kamu. Tadi aku ke toilet. Aku nggak bakal kabur.”
“Bagus! Urusan administrasi udah beres, jadi kamu bisa pulang hari ini. Ntar aku anter pulang deh. Mau pulang kemana non?”
“Ke kontrakan aku aja.”
“Oke. Oh iya, aku bawa coklat nih. Kamu suka coklat?”
“I do really love chocolate, because our life is like a chocolate box. We will never know what we’ll get. (Aku benar-benar menyukai coklat, Karena hidup kita tak berbeda dengan sekotak coklat. Kita tak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan)”
Leo tersenyum, “Ya udah makan aja coklatnya itu buat kamu kok.”
“Asal nggak dapat rasa pasta gigi aja!” Vanni mulai menggigit coklatnya. “Dari dulu, aku benci rasa mint.”
“Eh Van, kamu cerita dong tentang keluarga kamu!”
“Buat apa? Kamu kan udah tau keluarga aku.”
“Tapi aku pengen denger langsung dari kamu.”
Vanni menarik nafas, ragu-ragu.
“Keluarga aku mulai hancur sekitar satu setengah tahun yang lalu. Ayahku mabuk-mabukan dan berjudi hampir tiap malam. Ayah dikeluarkan dari tempat kerjanya dan itu membuat perekonomian keluarga kacau. Setiap ayah berada di rumah, dia selalu menyiksaku dan kakak lelakiku.
“Ibu sendiri nggak bisa diandalkan buat membela kami. Ibu terlalu capek mengurusi semua masalah ayah, sehingga dia tidak peduli dengan nasib anak-anaknya. Lama-lama, aku dan kakakku nggak betah terus berada di rumah. Kami memutuskan pindah dan mengontrak sebuah rumah. Sekolahku pun dipindah. Selama ini aku tinggal berdua bersama kakakku. Kami memenuhi kebutuhan hidup kami dari uang yang diperoleh kakakku hasil usahanya bersama temannya.
“Sejak seminggu yang lalu kakak pergi ke luar kota untuk mengurus usahanya yang lain. Ternyata selama ini ayah memantau kami berdua. Begitu dia tau bahwa kakak pergi, dia dating dan menyeretku untuk kembali ke rumah. Aku menolak dan ayah marah. Dia menyiksaku. Untungnya ada tetangga yang mendengar jeritanku. Dia menolongku dan mengusir ayah dari kontrakan kami.
“Tapi itu nggak bikin ayah jera. Dia malah semakin menjadi-jadi meneror aku. Dia memaksa aku dan kakak untuk kembali ke rumah. Ayah juga menyuruh pemilik rumah kontrakan kami untuk mengusir kami. Aku nggak tau harus berbuat apa. Dalam keadaan kalut seperti itu, yang terlintas di pikiranku, aku ingin mati saja. Mungkin dengan mati, bisa mengakhiri penderitaan ini.”
Vanni mengakhiri ceritanya. Lagi-lagi dia menghembuskan nafas. Sementara Leo hanya diam tanpa ekspresi.
Lama mereka tenggelam dalam angan mereka, ketika tiba-tiba Vanni bergerak ke pinggir jendela. Hujan deras telah menggguyur kota Semarang. Menutup teriknya sinar matahari yang biasa menyengat kulit. Jendela masih terbuka, sehingga tetesan-tesan air hujan membasahi lantai kamar dan membasahi Vanni.
“Vanni, ngapain kamu berdiri di situ? Tutup jendelanya, ujannya deres banget. Ntar kamu sakit lagi?” ucap Leo tersadar dari lamunannya.
“Memang kenapa kalo ujan?”
Leo hanya diam, memandangi Vanni tak mengerti.
“Aku suka ujan. Aku suka jalan di tengah ujan. Karena nggak akan ada seorang pun yang tau kalo aku nangis.” lanjut Vinna lagi.
Leo kaget, dulu Vicha pernah berkata seperti itu padanya. Ketika Leo bertanya mengapa Vicha menyukai hujan.
‘Vicha, apakah Vanni memang reinkarnasi dari kamu?’ pikir Leo memandangi hujan.
“Dasar cengeng!” lanjut Leo meneruskan percakapan.
“Kamu nggak tau ya? Air mata orang sedih itu mengandung racun. Jadi saat kamu sedih, menangislah. Karena dengan menangis, bisa membantu kamu menghilangkan racun di tubuh.”
“Oke terserah. Sekarang, kapan kamu mau pulang? Kamu kan suka ujan, jadi kenapa nggak ujan-ujanan aja? Asal kamu bisa jaga kesehatan biar besok kamu ga demam. Gimana?” tantang Leo, disambut senyum sumringah Vanni.

♥♥♥

Besok harinya di sekolah, Leo melihat Vanni melangkah masuk gerbang sekolah ketika dia memarkirkan kendaraannya. Leo tersenyum. Dia sudah memantapkan niatnya untuk menyatakan perasaannya kepada Vanni, hari ini, sepulang sekolah.
Dia menenteng sebuah plastik berisi coklat yang sejak tadi bertengger manis di sampingnya. Leo berjalan cepat menyusul langkah Vanni.
“Vanni!” panggil Leo tanpa menghiraukan puluhan pasang mata yang mengawasi mereka.
“Van, ada yang mau aku omongin sama kamu. Ntar sepulang sekolah, penting. Kamu jangan kemana-mana, tetep di kelas kamu.” Leo berkata cepat. Vanni belum sempat berkata apa-apa ketika dilihatnya Leo sudah menghilang menuju kelasnya.

♥♥♥

Kelas 3ipa5 sudah kosong sejak setengah jam yang lalu. Vanni belum beranjak dari tempat duduknya, memandangi tetes hujan di luar.
“Udah nunggu lama ya?” suara Leo mengagetkan. Vanni tak menjawab, dia hanya menatap Leo dengan pandangan campuran bosan dan ingin tahu.
“Maaf ya, udah bikin kamu nunggu. Sebagai permintaan maaf, nih aku bawain coklat lagi.” lanjut Leo memahami arti pandangan Vanni.
“Emang kamu punya pabrik coklat ya?” Vanni mulai memakan coklat pertamanya. Rasa mint lagi.
“Hahahaha… bukan, adanya pabrik ember. Yah, daripada mubazir, mending buat kamu aja.”
“Ada perlu apa sih Leo? Kayaknya penting banget?”
“Van, would you be my lover? (kamu mau nggak jadi pacar aku?)” tanya Leo to the point.
Vanni tersentak, tangannya yang sedang mengambil coklat ketiganya, tergantung di udara.
“Aku ngerasa kamu mirip banget sama Vicha. Aku baru nyadar, saat aku melihat kamu sekarat di toilet. Aku nggak mau kehilangan untuk kedua kali.”
Vanni merubah ekspresinya menjadi setenang dia bisa. Dia kembali memakan coklatnya.
“Nggak.” sahut Vanni singkat.
Kali ini Leo yang terkejut. Leo menatap Vanni tak percaya.
“Nggak!” ulang Vanni. “Udah jelas kan?”
Mulut Leo sudah setengah terbentuk kata ‘kenapa’. Tapi belum sempat terucap, Vanni menyelanya.
“Kamu sayang sama orang yang salah. Aku itu Vanni, Leo. Bukan Vicha. Bagaimanapun kamu anggep aku kayak Vicha, aku bukan Vicha!” Vanni menjelaskan.
“Apa bedanya?”
“Jelas bedalah! Aku bukan Vicha, aku Vanni.” dan sebelum Leo sempat berkata apapun, Vanni sudah melesat keluar kelas.

♥♥♥

Dua minggu setelah Leo menyatakan perasaan ke Vanni. Sejak peristiwa itu, Leo mengamati ada perubahan dalam sikap Vanni ketika mereka bertemu.
Vanni seperti menjauhi Leo. Meminimalkan waktu mereka untuk saling menatap muka. Dan Leo, walaupun tak yakin, dia tahu bahwa peristiwa itulah yang membuat Vanni menjauh darinya.
Dan sekarang, sudah satu minggu Leo tak manapun di sekolah. Sering Leo duduk di sudut sekolah, berharap dia bertemu Vanni. Tak jarang juga, Leo ke kelas Vanni, tapi nyatanya sudah seminggu ini Vanni tak ke sekolah.
Terakhir kali dia melihat Vanni, dia datang ke sekolah bersama seorang laki-laki yang tak Leo kenal. Dia adalah kakak Vanni. Entah apa yang mereka berdua lakukan di sekolah Vanni. Tapi Leo melihat mereka berdua memasuki ruang guru.
Ada rasa rindu yang menyergap Leo. Ketika akhirnya dia tak tahan lagi, dia berniat untuk mengunjungi Vanni atau sekedar mengetahui kabarnya.
Sore itu juga, Leo pergi ke rumah Vanni. Dia tak peduli hujan deras yang mengguyur sejak siang.
Leo terkejut melihat rumah kontrakan Vanni sepi. Pagarnya tertutup rapat. Teras rumah itu berantakan.
Tiba-tiba ada seorang ibu tua yang mendekati Leo. Dia adalah pembantu rumah kontrakan Vanni.
“Nak Leo ya? Vanni menitipkan ini buat Nak Leo.” Kata ibu itu sambil menyerahkan sebuah surat.
Hati Leo berdesir. Ada perasaan tak nyaman, sama seperti perasaan ketika dia mendengar bahwa Vicha telah meninggal.
“Apa ini bu? Vannni kemana?”
“Semuanya ada di situ. Nak Leo baca saja ya. Ibu pergi dulu.”
“Terima kasih.”
Ibu itu pergi, setelah itu baru Leo menancap gas mobil menuju rumahnya menembus derasnya hujan.

♥♥♥

Kamar Leo tak ubah sebuah kapal yang hampir tenggelam sekarang. Leo uring-uringan sejak tadi. Sejak dia selesai membaca kata demi kata yang tertulis di surat Vanni tadi.
Surat Vanni berisi ucapan selamat tinggal untuk Leo. Vanni dan kakaknya sudah kembali ke keluarganya yang telah utuh kembali.
Untuk kedua kalinya, Leo kehilangan seseorang yang dia sayangi. Leo sekarang sadar, bahwa dia punya Vanni, seseorang yang benar-benar dia sayangi. Bukan Vicha lagi. Tapi sebelum Leo jujur terhadap Vanni. Vanni telah hilang.

♥♥♥

Beberapa hari setelahnya, Leo masih belum bisa menghilangkan perasaan kesepian. Sampai akhirnya, sepucuk surat datang ke rumahnya. Surat itu untuk dia, entah dari siapa. Hanya ada alamat si pengirim surat, tanpa nama terang.
Leo penasaran dengan surat itu. Cepat-cepat dia membuka dan membaca surat itu.
“Thanks udah nyelametin aku waktu di toilet. Thanks juga buat coklat-coklatnya. Thanks buat semuanya. Temui aku di taman hujan sabtu sore. VP.”
Leo tahu sekarang siapa yang mengiriminya surat. Dialah Vanni.

♥♥♥
Pukul 16.00, Sabtu sore, Lapangan Kota.
Leo sudah berdiri di situ sejak setengah jam yang lalu. Taman hujan adalah sebutan lain untuk lapangan kota. Konon katanya, tetesan hujan di lapangan ini terasa lebih dingin dari daerah lain.
Pukul 16.09, gadis yang ditunggu Leo datang. Leo tidak menyadarinya. Sampai akhirnya mereka hanya berjarak satu meter, gadis itu bertanya kepada Leo.
“Udah nunggu lama ya?” Leo berbalik untuk melihat Vanni. Leo tersenyum dan berikutnya Vanni juga tersenyum.
“Leo, thanks ya udah nyelametin aku waktu di toilet dulu. Seandainya dulu kamu nggak nyelametin aku, aku nggak akan tau kalo keluargaku sayang sama aku.” untuk inilah Vanni meminta Leo untuk datang menemuinya. Dia lega akhirnya dia masih sempat mengucapkan langsung ke Leo.
“Maaf, aku nggak kasih tau kamu dulu kalo aku mau pindah sekolah. Aku nggak tega. Maafin aku Leo.”
“Vanni, aku mau kamu jadi pacar aku. Aku sayang sama kamu, bukan Vicha. Vicha emang masa laluku., tapi aku pengen kamu yang ngegantiin tempatnya. Kamu mau ya?” tawar Leo.
Vanni terdiam. Dia melepaskan payung yang dari tadi digunakannya untuk menghalangi tetesan hujan. Leo menunggu jawaban Vanni.
Vanni mengangguk, pelan sekali. Tetapi Leo masih sempat melihatnya. Leo melepas payungnya, sama seperti Vanni. Dan membiarkan tetesan hujan membasahi tubuh mereka.
Mereka berdua tersenyum, karena kata-kata tak cukup menggambarkan kebahagiaan mereka. Pelangi telah muncul, tepat ketika hujan benar-benar berhenti.

SELESAI

Oktober 2008,
Putri Sekar S.
XII IA 1/22
SMAN 2 SMG

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: