Pristiadi Utomo

DISCOVERY– INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

In Pendidikan on 3 February 2009 at 11:25 pm

sapiens13_01DISCOVERY– INQUIRI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
Oleh
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

Selama bertahun-tahun metode mengajar IPA / Fisika di sekolah dasar dan sekolah menengah bahkan juga di perguruan tinggi ialah metode mengajar secara informatif, yaitu guru berbicara atau bercerita dan siswa mendengarkan dan mencatat. Secara tradisional, pengajaran IPA / Fisika ditekan pada penghafalan rumus-rumus, konsep-konsep atau bentuk-bentuk problem tertentu. Pengajaran IPA lebih ditekankan pada produk dari pada proses-proses IPA.
Perubahan adalah ciri khas pendidikan IPA. Hal ini mudah dapat difahami. Karena kebutuhan manusia selalu berubah dan berkembang dan problem ilmiah selalu meningkat, maka salah satu tugas sekolah ialah berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan jalan melatih atau mendidik sisiwa agar supaya nanti dapat melaksanaan tugas-tugas di masyarakat yang selalu mengalami proses perubahan dan perkembangan. Yang dimaksud dengan kebutuhan ialah kebutuhan siswa atau masyarakat sesuai dengan keadaan sistem ekologi/ lingkungan, ekonomi-sosial dan budaya, dan kebutuhan sebagai akibat perkembangan IPA dan teknologi dan pembangunan. Berdasarkan situasi dan kondisi inilah maka sejak berapa tahun berakhir hingga saat ini pendidikan IPA di sekolah dasar, Fisika di sekolah menengah dan perguruan tinggi, telah dan terus-menerus distudi dengan tujuan untuk memperbaharui / memperbaiki materi pelajaran dan cara-cara penyampaian yang disesuaikan dengan teori belajar mengajar yang mutakhir.
Sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini, Departemen Pendidikan (pemerintah RI) telah dan terus berusaha membiayai program-program pengembangan pendidikan. Berjuta-juta rupiah, bahkan mungkin bermiliar-miliar rupiah telah habis digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan kurikulum IPA, matematika, ilmu sosial, bahasa, dan sebagainya.
Salah satu program untuk mengembangkan metode mengajar yang modern (sebenarnya tidak baru) di sekolah dasar dan sekolah menengah selama beberapa tahun terakhir ini telah menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar yang aktif melalui kegiatan-kegiatan yang berorientasikan pada “discovery” dan / atau “inquiry”
Dasar filsafat ini ialah siswa akan dimotivasi lebih baik apabila Ia terlibat secara langsung dalam proses belajar melalaui kegiatan-kegiatan “discovery” dan / atau ”inquiry”. Apakah yang dimaksud dengan “discovery” dan / atau “inquiry” ? Banyak para ahli pendidikan dan guru menggunakan istilah ini secara bergantian sedangkan lainnya lebih suka membedakan artinya.

Carin ( 1985 ) menyatakan bahwa “ discovery” adalah suatau proses mental dimana anak atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip.
Dengan kata lain, “discovery” terjadi apabila siswa terutama terlibat dalam menggunakan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. Misalnya, siswa mungkin menemukan “apa atom itu”, yaitu Ia membuat suatu konsep tentang atom, atau kemudian Ia mungkin menemukan suatu prinsip ilmiah : “ atom tidak dapat dibagi lagi “.
Suatu kegiatan “discovery” ialah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.
Di bawah ini contoh beberapa konsep dan prinsip.
Konsep :
Kecepatan Zat
Panas Gaya
Energi Reaksi, dan sebagainya.
Prinsip :
Logam bila dipanasi memuai.
Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.

Bagi seorang siswa untuk membuat penemuan-penemuan, Ia harus melakukan proses-proses mental, misalnya mengamati, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan dan sebagainya. Pengajaran “discovery” harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses “discovery”.
”Inquiry” dibentuk dan meliputi ”discovery”, karena siswa harus menggunakan kemampuan “discovery” dan lebih banyak lagi dengan kata lain,”inquiry” adalah suatu perluasan proses-proses “discovery” yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses “discovery”,” ínquiry” mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Pengajaran ” inquiry “ harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin bahwa siswa dapat mengembangkan proses “ inquiry “.
Carin (1985) menekankan pengajaran “discovery” dengan batas-batas tertentu untuk siswa sekolah dasar kelas yang lebih rendah, kemudian mengenalkan “inquiry” kepada siswa yang lebih atas kelasnya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
Siswa kelas 4 Sekolah Dasar mungkin mengamati es mencair dan menemukan bahwa es sangat sensitif terhadap panas. Bagi siswa kelas 6 atau siswa Sekolah Menengah Pertama dapat diberi tugas untuk memilih dan menyelidiki suatu perubahan wujud dan membuat laporan eksperimen yang telah dikerjakan. Apabila ia merumuskan problemnya sendiri, merancang eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan, maka dapat dinyatakan bahwa ia sedang melakukan kegiatan “inquiri”.
Dari analisis singkat tentang “discovery” dan/atau “inquiry” ini, jelaslah bagi siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas lebih bawah harus disediakan kegiatan belajar IPA yang terutama berorentasikan pada proses-proses “dicovery”. Tetapi bagi siswa sekolah dasar kelas lebih atas dan sekolah menengah, harus diciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang berorentasikan pada proses-proses’inquiry”. Lebih lanjut, analisis ”dicovery” dan”inquiry” di atas menunjukkan hakekat proses berpikir secara hirarki yang digunakan oleh para ilmuwan.
Ilmuwan yang sejati memiliki pengalaman yang sangat luas. Ia mengetahui beratus-ratus prosedur untuk merancang eksperimen-eksperimen dan untuk memperkecil kesalahan-kesalahan eksperimen. Ia telah mengasimilasi sikap-sikap khusus yang meyakinkan mana yang benar dan mana yang tidak benar dari penelitian-penelitian yang ia lakukan. Untuk menjadi “problem solver” yang baik, bersikap dan berpikir sebagai ilmuwan, atau menjadi ilmuwan yang profesional memerlukan waktu bertahun-tahun. Guru mempunyai tanggung jawab dan peranan yang besar sekali dalam melicinkan proses perkembangan ini.
Jelaslah, bahwa siswa dapat berkembang kemampuan berpikir “discovery-inquiry”nya, hanya apabila ia terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut pelaksanaan tugas-tugas mental tersebut di atas. Karena siswa sesungguhnya tidak pernah menguasainya setiap tugas mental dengan sempurna, maka ada suatu tingkatan dimana siswa itu menjadi ahli dalam mempelajari tentang bagaimana “to discovery” dan/ ‘to inquiry’. Bahkan, ilmuwan yang menerima hadiah nobel, pengarang, pelukis, ahli matematika, ahli ilmu sosial, ahli ekonomi dan sebagainya masih dalam keadaan bergerak menuju ke pengembangan keterampilan-keterampilan ‘discovery”dan/atau ‘inquiry” ini. Tugas suatu sistem sekolah ialah membentuk kurikulum sedemikian rupa sehingga siswa dapat memanifestasikan kemampuan-kemampuan “discovery” dan/atau”inquiry”nya.
Proses belajar mengajar melalui “discovery-inquiry learning and teaching” selalu melibatkan siswa dalam kegiatan bertukar pendapat melalui diskusi, seminar, dan sebagainya. Beberapa keuntungan mengajar dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” antara lain sebagai berikut.
1. Jerome Bruner, seorang profesor psikologi dari Harvard University di Amerika serikat menyetakan beberapa keuntungan metode discovery (penemuan) sebagai berikut .
a. Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
b. Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
c. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
d. Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesis sendiri. Di dalam proses belajar melalui “discovery-inquiry”, tugas kegiatannya dibuat “open-ended” sehingga siswa menjadi bebas untuk mengembangkan hipotesis-hipotesisnya sendiri.
e. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
f. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.

2. Pengajaran menjadi “student-centered”.
Salah satu prinsip psikologi tentang belajar menyatakan bahwa makin besar keterlibatan siswa dalam kegiatan, maka makin besar baginya untuk mengalami proses belajar. Biasanya bila guru berpikir tentang pembelajaran Fisika, Ia menganggap bahwa siswa sedang mengasimilasi beberapa informasi. Proses belajar meliputi semua aspek yang menunjang siswa menuju ke pembentukan manusia seutuhnya (“a fully function person”). Misalnya, di dalam situasi proses inquiry, siswa tidak hanya belajar tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi Ia juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, komunikasi sosial dan sebagainya. Sebaliknya, banyak kesempatan untuk pengembangan bakat-bakat di atas bagi siswa sangat terhalang di dalam pengajaran yang berdasarkan pada “teacher centered”. Apabila dipandang pengajaran sebagai cara untuk memungkinkan siswa dapat menjadi manusia yang utuh, maka sukarlah untuk mempertahankan situasi lingkungan proses belajar yang berdasarkan pada “teacher centered”.

3. Proses belajar melalui kegiatan “inquiry” dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.
Apabila kita mempunyai konsep diri yang baik, maka secara psikologis diri kita akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan mengeksplorasi kesempatan-kesempatan yang ada, lebih kreatif, dan umumnya memiliki mental yang sehat.
Salah satu tugas dalam pembentukan siswa yang baik adalah pembentukan konsep diri. Kita dapat melakukan hal ini dengan jalan melibatkan diri dalam proses “discovery-inquiry’, karena melalui keterlibatan yang aktif, kita dapat memanifestasikan potensi kita dan memperoleh pengertian tentang “diri”. Mengajar dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” memberikan kesempatan bagi siswa dalam keterlibatan yang lebih besar, yaitu memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk memperoleh kesadaran dan mengembangkan konsep dirinya lebih baik.

4. Tingkat pengharapan bertambah.
Bagian dari konsep diri siswa ialah tingkat pengharapannya, yaitu siswa mempunyai ide tertentu tentang bagaimana ia dapat menyelesaikan suatu tugas dengan caranya sendiri. Sayangnya, banyak siswa yang telah mendapatkan tingkat pengharapan yang rendah. Mereka merasa, misalnya ; “Saya tidak dapat mengerjakan soal-soal mekanika”, “Saya tidak pernah mendapatkan hasil yang baik dalam pelajaran Fisika”. Sebenarnya melalui kegiatan “discovery-inquiry”, siswa mungkin dapat memperoleh pengalaman yang sukses dalam menggunakan bakat-bakatnya untuk menyelidiki atau memecahkan problem-problem Fisika. Misalnya, “Saya dapat memecahkan problem Mekanika dengan cara saya sendiri tanpa pertolongan orang lain”.

5. “Inquiry Learning” dapat mengembangkan bakat kemampuan individu.
Individu memiliki suatu kumpulan lebih dari 120 bakat. Bakat akademik hanya berhubungan dengan beberapa saja. Lebih banyak kebebasan (fleksibel) dalam proses pembelajan Fisika bagi siswa, berarti makin besar kemungkinan baginya untuk dapat mengembangkan bakat-bakat lainnya. Bila siswa bekerja sama memecahkan atau menyelidiki beberapa problem, maka mereka mungkin terlibat dalam pengembangan bakat-bakat lainnya, misalnya merencanakan, mengorganisasim komunikasi sosial, kreativitas, dan akademik.

6. “Inquiry Learning” dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisionil (menghafal).

7. “Inquiry Learning” memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Seringkali guru tidak memberikan waktu cukup kepada siswa untuk berpikir dalam hubungannya dengan proses pembelajaran Fisika. Siswa memerlukan waktu dalam menggunakan daya otaknya untuk berpikir dan memperoleh pengertian tentang konsep, prinsip dan teknik-teknik memecahkan suatu problem. Dr Jean Piaget percaya bahwa ‘tidak akan terjadi proses belajar yang sejati (murni) apabila siswa tidak asimilasi serta mengakomodasi segala sesuatu yang ia jumpai di lingkungannya”. Apabila hal ini tidak terjadi, maka guru dan siswa hanya terlibat dalam “pseudo-learning”, yaitu berupa hafalan atau ingatan yang segera musnah menjadi kelupaan yang tak bermakna. Oleh karena itu, guru harus menyadari dan cukup menjamin bahwa siswa memperoleh keberhasilan di kelak kemudian untuk memahami implikasi-implikasi penting studinya.

8. Apabila siswa belum pernah mempunyai pengalaman belajar melalui kegiatan “discovery-inquiry”, maka pada permulaan kegiatan belajar mungkin ia memerlukan struktur yang cukup luas dalam pelajaran-pelajarannya.
Setelah siswa memperoleh beberapa pengalaman tentang bagaimana melakukan suatu penyelidikan, ia akan dapat melakukan tugas-tugas dengan bentuk-bentuk pelajaran yang strukturnya tidak begitu luas. Dalam hal ini, istilah umum “sifat menyelidiki” digunakan baik untuk pendekatan pembelajaran Fisika dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” maupun “inquiry”.

Proses pembelajaran IPA di Sekolah Dasar dan Fisika di Sekolah Menengah dan perguruan tinggi yang menggunakan “discovery-inquiry” dapat lebih mengembangkan “sifat menyelidiki” pada diri siswa. Di lain pihak pembelajaran menggunakan “discovery-inquiry” akan menciptakan pembelajaran yang student centered bukan lagi teacher centered. Bila yang terjadi sebaliknya, maka guru dan siswa hanya terlibat dalam “pseudo-learning”, yaitu berupa hafalan atau ingatan yang segera musnah menjadi kelupaan yang tak bermakna.

Dengan demikian harapan mewujudkan siswa menjadi manusia seutuhnya (“a fully function person”) akan mendapat peluang yang besar mewujudkannya bila proses pembelajaran Fisika menggunakan pendekatan yang konstruktif semisal “discovery-inquiry” itu. Hal itu memerlukan kesadaran dan kemauan yang tinggi dari setiap guru-guru IPA atau guru Fisika.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: